Contoh Praktik Baik di Sekolah Bagi Guru dalam Konsep Pendidikan Inklusi

Table of Contents

Assalamualaikum Bapak/Ibu yang hebat, agen perubahan pembawa manfaat yang tiada terkira batasnya, semoga senantiasa sehat dan beruntung, aamiin. Kali ini akan kami sajikan contoh praktik baik di sekolah bagi guru dalam konsep pendidikan inklusi.

Jika bertanya perihal pembelajaran, maka dalam kurikulum merdeka ini kita dikenalkan pada konsep pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah konsep pembelajaran yang mengakomodasi segala bentuk kebutuhan peserta didik yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar dan banyak aspek lainnya.

Contoh praktik baik di sekolah bagi guru dalam konsep pendidikan inklusi bentuk prestasi yang patut diapresiasi, terlebih pelaksanaannya dilakukan berkaitan dengan konsep pembelajaran berdiferensiasi.

Beliau adalah Shinta Fauziah Romdhoni S.Pd. Salah satu guru dari SD Cibeureum 1, yang mengajarkan contoh praktik baik di sekolah bagi penyandang disabilitas. 

CONTOH PRAKTIK BAIK DI SEKOLAH
PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
DALAM PENDIDIKAN INKLUSIF

Setiap orang memiliki hak yang sama untuk menikmati pendidikan yang layak, hal tersebut tercantum dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 yang berbunyi setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan sesuai dengan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam alinea ke empat yang berisi bahwa pemerintah negara Indonesia antara lain berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak terkecuali anak berkebutuhan khusus, mereka pun tentu memiliki hak yang sama untuk belajar.

Contoh Praktik Baik di Sekolah Bagi Guru dalam Konsep Pendidikan Inklusi
Contoh Praktik Baik di Sekolah Bagi Guru dalam Konsep Pendidikan Inklusi. Foto oleh Pavel Danilyuk.

Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang terdapat keterbatasan fisik, intelektual, emosi serta sosial. Menurut Haring (1982) Anak berkebutuhan khusus terbagi menjadi 5 kategori yaitu tidak mampu (disabled) mempunyai kesulitan (impaired) terganggu (disorder) cacat (handicapped) atau berkelainan (exceptional). Karena hambatan yang mereka miliki, anak berkebutuhan khusus membutuhkan penanganan yang khusus. Untuk itu sekolah Luar Biasa (SLB) dibangun untuk memfasilitasi dan mengoptimalkan perkembangan mereka.

Faktanya berdasarkan pusat data dan teknologi statistik sekolah luar biasa Kemdikbud (2021) sampai saat ini jumlah SLB di Indonesia masih sangat terbatas. Dari Sabang sampai Merauke baru 2.250 sekolah saja yang tersedia. Berdasarkan permasalahan tersebut, untuk memenuhi hak pendidikan anak berkebutuhan khusus pemerintah mengeluarkan permen nomor 70 tahun 2009 pasal 1  mengenai pendidikan inklusif. 

Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik yang memiliki kelainan, juga untuk peserta didik yang memiliki kecerdasan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau kegiatan belajar mengajar pada lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik lainnya pada umunya.

Tujuan pendidikan inklusif adalah:

  1. Menjamin semua anak memiliki akses terhadap pendidikan dengan kualitas yang baik, efektif, relevan dan tepat dalam wilayah tempat tinggalnya.
  2. Memastikan semua pihak untuk menciptakan lingkungan yang kondusif agar seluruh
  3. peserta didik dengan berbagai kebutuhan terlibat dalam proses pembelajaran.

Pelaksanaan pendidikan inklusif tentu tidaklah mudah banyak tantangan yang harus dihadapi oleh pendidik salah satunya dalam proses diferensiasi dalam pembelajaran. Oleh karena itu  saya hendak berbagi kisah praktik baik tentang pengalaman melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dalam kaitannya pendidikan inklusif di kelas 5 SDN Cibeureum 1 Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat. 

contoh Praktik baik di sekolah dalam konsep pendidikan inklusi ini disusun sebagai bentuk pembelajaran berdiferensiasi sekaligus tindak lanjut dari Program Pemberdayaan Komunitas Guru dalam Penyusunan Perangkat Ajar yang Mengakomodasi Peserta Didik Penyandang Disabilitas.

Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus

Contoh praktik baik di sekolah dalam konsep pendidikan inklusi diawali dengan adanya proses identifikasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi untuk menemukenali kebutuhan atau hambatan dalam proses pembelajaran. Dari hasil observasi, ditemukan ada  1 orang peserta didik yang kelas V yang diduga mengalami Disleksia.

Asesmen Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

Asesmen diagnostic dilaksanakan pada minggu keempat. Penyusunan profil peserta didik perlu dilakukan untuk memberikan penanganan atau bimbingan yang tepat terhadap anak berkebutuhan khusus. Ananda Nizar Ibrahim teridentifikasi berkebutuhan khusus dengan kategori Disleksia. Dengan ciri sebagai berikut

  1. Belum mampu membaca dengan baik
  2. Sulit dalam membedakan huruf  b dan d
  3. Mengalami kesulitan dalam menulis

Menyusun Modul Ajar

Modul ajar disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik. Dalam penyusunannya saya mengakomodasi berbagai kebutuhan peserta didik dalam langkah-langah pembelajaran. Saya memilih mata pelajaran seni rupa dengan  tema “Aku Seorang Ilustrator”  denga dimensi profil pelajar Pancasila adalah kreatif yakni mampu menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal.

Tujuan pembelajaran untuk anak reguler dan anak disleksia dirancang sama. Namun untuk KKTP Anak reguler disusun berdasarkan standar ideal sedangkan anak disleksia mengalami simplifikasi atau penyederhanaan.

Penyusunan langkah-langkah pembelajaran pun disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Peserta didik disleksia mendapatkan bimbingan yang lebih intensif dari pendidik serta mendapat bimbingan dari teman sebaya dalam proses pembelajaran.

Pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi

Contoh praktik baik di sekolah dalam konsep pendidikan inklusi selanjutnya adalah dilaksanakannya pembelajaran berdiferensiasi. 

Pada minggu kedua bulan November, saya melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi pendidikan inklusif. Saya menggunakan model Inovasi yang saya rancang sendiri dalam proses pembelajaran yakni model Inovasi pembelajaran JAWARA (Jovial activity, Analyzing, Writing, Actualizing, Renditioning dan Announcing). Model pembelajaran ini di desain untuk pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik.

Hal menarik yang saya temukan dalam pembelajaran adalah, dengan perlakuan yang tepat ternyata peserta didik disleksia dapat terlihat sangat antusias dan menyelesaikan tujuan pembelajaran dengan baik.

Jovial Activity

Diawali dengan proses penyambutan siswa yang tidak biasa, saya menempelkan 4 simbol sambutan kepada peserta didik untuk memudahkan peserta didik disleksia. Peserta didik disambut dengan hangat sesuai keinginan mereka, ada yang ingin dipeluk, ada yang ingin melakukan permainan kertas gunting batu, ada yang ingin berjoget bersama dan ada pula yang ingin disambut dengan tos ala mereka.

Dilanjutkan dengan pelaksanaan apersepsi dan tujuan pembelajaran yang dibalu dengan permainan yang menyenangkan yaitu “Mencari Harta Karun” seluruh peserta didik aktif terlibat tidak terkecuali peserta didik disleksia yang terlihat sangat menikmati dan antusias selama proses permainan.

Analizing

Guru membacakan cerita di depan kelas bergantian dengan siswa bertipe Visual untuk memfasilitasi peserta didik disleksia. Peserta didik menganalisis materi, kriteria pembuatan gambar ilustrasi untuk cover cerita rakyat.

Writing

Peserta didik penulisan kesimpulan hasil analisis mereka. Guru membimbing langsung peserta didik disleksia dalam proses penulisan kesimpulan.

Actualizing

Dalam pembuatan gambar ilustrasi berdasarkan cerita rakyat yang dipilih, ternyata peserta disleksia tidak mengalami hambatan berarti. Dia mampu berimajinasi mendesain gambar atau cover cerita rakyat nusantara meskipun dengan sedikit bantuan atau arahan dari guru.

Renditioning

Setelah pembuatan cover seluruh peserta didik melakukan presentasi di dalam kelas, meskipun dengan terbata-bata namun peserta didik disleksia juga mampu menjelaskan hasil karyanya di depan kelas.

Announcing

Sintak terakhir adalah proses announcing hasil karya kepada adik dan kakak kelas, peserta didik disleksia juga mendapat apresiasi atas hasil karyanya. Alhamdulillah tidak ada bullying yang terjadi kepada peserta didik berkebutuhan khusus tersebut. Pembelajaran diakhiri dengan pengumpulan hasil karya peserta didik oleh siswa kinestesis sebagai kurator. Hasi karya peserta didik disimpan di pojok baca sebagai referensi tambahan dalam proses literasi.

Refleksi

Dari proses pembelajaran ini penulis banyak mengambil pelajaran bahwa setiap peserta didik memiliki kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing. Namun dengan pembelajaran berdiferensiasi peserta didik dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Tugas kita sebagai guru adalah memahami kebutuhan serta memfasilitasi mereka agar bisa berkembang dengan optimal tanpa terkecuali. Tetap semangat guru hebat Indonesia, yakinlah kita pasti bisa!

Nah, demikian contoh praktik baik di sekolah bagi guru dalam konsep pendidikan inklusi. Pada dasarnya, setiap peserta didik berhak mendapatkan akomodasi pendidikan sepenuhnya melalui pembelajaran berdiferensiasi yang baik.

Irwan Fyn
Irwan Fyn Guru dan Blogger Pemula. Mari ramaikan.

Post a Comment