Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Sejarah Bahasa Indonesia Terlahir dari Semangat dan Momen Sumpah Pemuda

Sejarah Bahasa Indonesia Terlahir dari Semangat dan Momen Sumpah Pemuda - Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928, yang diawali berkumpulnya segenap pemuda dari berbagai pelosok negeri dalam Kerapatan Pemuda dan kemudian berikrar.

  1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia,
  2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia,
  3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Yang kemudian ikrar dari para pemuda tersebut dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Pertanyaannya, dari mana asal kata Indonesia?

Sejarah Bahasa Indonesia Terlahir dari Semangat dan Momen Sumpah Pemuda
Sejarah Bahasa Indonesia Terlahir dari Semangat dan
Momen Sumpah Pemuda. Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Seorang yang berkebangsaan Inggris, George Samuel Earl menyebut gugusan pulau di Lautan Hindia dengan nama "Indunesia". Namun banyak ilmuan Eropa kerap menyebut dengan "Melayunesia". Dalam majalah Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia (Volume IV, P.254, 1850) yang ditulis oleh J.R. Logan, pria berkebangsaan Inggris menyebut gugusan pulau di Lautan Hindia dengan "Indonesian". Lainnya yang menamai gugusan pulau di Nusantara ini yang ditulis oleh Adolf Bastian, kebangsaan Jerman, menggunakan kata Indonesia dalam buku Indonesian Order die Inseln des Malaysichen Archipel.

Hingga kini, kata Indonesia dipakai sebagai nama sebuah negara yang berada di kawasan Asia Tenggara, nama untuk gugusan pulau di Nusantara, yang berpenduduk lebih dari 275,77 juta jiwa.

Semangat dan momen sumpah pemuda inilah yang menggawangi lahirnya sejarah bahasa Indonesia. Unsur ketiga dari ikrar pemuda sebagai bentuk pernyataan kuat bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa Indonesia, terhitung sejak tahun 1928 menjadi bahasa nasional.

Bahasa Indonesia secara resmi dinyatakan sebagai bahasa negara, tercatat sejak tanggal 18 Agustus 1945, seiring disahkannya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan tertuang dalam Bab XV, pasal 36.

Dijelaskan dalam Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1945 di Medan, bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Hal ini didasari penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa perhubungan (Lingua Franca) di Kepulauan Nusantara hingga seluruh Asia Tenggara sejak zaman dulu.

Kemudian, sejak abad ke-7 bahasa melayu sudah digunakan di kawasan Asia Tenggara. Terbukti dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 Masehi dan Talang Tuwo berangka tahun 684 Masehi (Palembang), dan Karang Brahi berangka 688 Masehi di Jambi. Prasasti tersebut semuanya bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Selain digunakan sejak zaman Sriwijaya, bahasa Melayu Kuna juga digunakan di Jawa Tengah (Gandasuli) terbukti dengan ditemukannya prasasti berangka tahun 832 Masehi dan di Bogor terdapat prasasti berangka tahun 942 Masehi.

Terdapat sejarah bahasa Indonesia yang panjang terlahir dari bahasa Melayu sejak zaman Sriwijaya yang kala itu menjadi bahasa kebudayaan terutama dalam bahasa buku pelajaran agama Budha. Selain sebagai bahasa perhubungan antarsuku di Nusantara, bahasa Melayu juga digunakan sebagai bahasa perdagangan.

Dalam sebuah catatan, informasi dari seorang ahli sejarah Cina, I-Tsing, yang belajar agama Budha di Sriwijaya, menyatakan bahwa ada bahasa yang bernama Koen-louen (I-Tsing: 63, 159), Kou-luen (I-Tsing: 183), K'ouen-louen (Ferrand, 1919), Kw'enlun (Alisjahbana, 1971: 1089), Kun'lun (Parnikel, 1977: 91), K'un-lun (Prentice, 1978: 19), yang berdampingan dengan Sansekerta. Koen-luen merupakan bahasa perhubungan atau lingua franca di Kepulauan Nusantara, yakni bahasa Melayu.

Semangat dan momen sumpah pemuda juga terlahir dari perkembangan serta pertumbuhan bahasa Melayu dari peninggalan kerajaan Islam, seperti batu nisan bertulis di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380 Masehi. Terdapat juga hasil susastra abad ke-16 dan 17, seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatain, dan Bustanussalatin.

Bahasa Melayu makin berkembang dan kokoh kala itu karena tidak mengenal tingkat tutur sehingga mudah diterima oleh masyarakat di pelosok Nusantara. Pertumbuhannya seiring dengan corak budaya daerah masing-masing. Perkembangan bahasa Melayu tidak terlepas dari penyerapan kosakata berbagai bahasa seperti Sansekerta, Persia, Arab, dan bahasa Eropa, yang kemudian memunculkan variasi dan dialek.

Semakin jelas tercatat mengenai sejarah bahasa Indonesia terlahir dari semangat dan momen sumpah pemuda, yang terpengaruh dari perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara. Secara sadar, semangat itu yang menggerakkan para pemuda mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Kini bahasa Indonesia dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, dari daerah hingga pusat kota.

Post a Comment for "Sejarah Bahasa Indonesia Terlahir dari Semangat dan Momen Sumpah Pemuda"