Contoh Antologi Puisi, Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka dan Pengarangnya

Table of Contents

Berawal dari didirikannya sekolah-sekolah pada tahun 1848 oleh pemerintah jajahan Belanda di nusantara, berdampak pada peningkatan pendidikan dan timbullah kegemaran akan membaca sehingga bangsa Indonesia pun mulai mengerti akan kedudukan dirinya sebagai bangsa yang dijajah. Beberapa orang berbakat yang menyadari hal itu mulai menulis berbagai macam karangan, baik berbentuk uraian maupun cerita yang memberinya penerangan kepada rakyat. Hingga lahirlah angkatan Balai Pustaka pada tahun 1900 hingga 1933. Berikut contoh antologi puisi, karya sastra angkatan balai pustaka dan pengarangnya.

Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka dan Pengarangnya. Foto: Pixabay

1.  Muhammad Yamin

BAHASA, BANGSA

Was du ererbt von deinen Vatern hast,
Erwirb es um es zu besitzen
                                                Goethe.

Selagi kecil berusia muda,
Tidur si anak di pangkuan bunda.
Ibu bernyanyi, lagu dan dendang
Memuji si anak banyaknya sedang;
Berbuai sayang malam dan siang
Buaian tergantung di tanah moyang.

Terlahir di bangsa, berbahasa sendiri
Diapit keluarga kanan dan kiri
Besar budiman di Tanah Melayu
Berduka suka, sertakan rayu;
Perasaan serikat menjadi padu
Dalam bahasanya, permai merdu.

Meratap menangis bersuka raya
Dalam bahagia bala dan baya;
Bernafas kita pemanjangkan nyawa
Dalam bahasa sambungan jiwa
Di mana Sumatera, di situ bangsa,
Di mana Perca, di sana bahasa.

Andalasku sayang, jana bejana
Sejakkan kecil muda teruna
Sampai mati berkalang tanah
Lupa ke bahasa tiadakan pernah;
Ingat pemuda, Sumatera hilang
Tiada bahasa, bangsa pun malang.

Puisi ini berisi tentang pujian-pujian terhadap tanah air dan bahasa bundanya yang ditulis antara tahun 1920 -1922. Selanjutnya, ada lagi contoh antologi puisi, karya sastra angkatan balai pustaka dan pengarangnya yang bisa kita nikmati.


2.  Roestam Effendi

BUKAN BETA BIJAK BERPERI

       Bukan beta bijak berperi,
pandai menggubah madahan syair,
       Bukan beta budak Negeri,
musti menurut undangan mair.

       Sarat-sarat saya mungkiri,
untai rangkaian seloka lama,
       Beta buang beta singkiri,
Sebab laguku menurut sukma.

       Susah sungguh saya sampaikan,
degup-degupan di dalam kalbu,
       Lemah laun lagu dengungan
matnya digamat rasain waktu.

       Sering saya susah sesaat,
sebab madahan tidak nak datang.
       Sering saya sulit mendekat,
sebab terkurang lukisan mamang.

       Bukan beta bijak berlagu,
dapat melemah bingkaian pantun,
       Bukan beta berbuat baru,
hanya mendengar bisikan alun.

Puisi ini ditulis oleh Roestam Effendi sebagai bentuk percobaan berani menulis puisi Indonesia yang berusaha lepas dari tradisi sastra Melayu. Berikut ini puisi lainnya yang menggambarkan sikap penyair melihat bangsanya yang berada dalam cengkeraman penjajah, sebagai bentuk nyanyian perjuangan bangsanya merebut kemerdekaan.

MENGELUH

I
Bukanlah beta berpijak bunga,
melalui hidup menuju makam.
Setiap saat disimbur sukar,
bermandi darah, dicucurkan dendam.

Menangis mata melihat makhluk,
berharta bukan, berhak pun bukan.
Inilah nasib negeri 'nanda,
memerah madu menguruskan badan.

Ba'mana beta bersuka cita,
ratapan ra'yat riuh gaduh,
membobos masuk menyayu kalbu.
Ba'mana boleh berkata-kata,
Suara sebat, sedanan rusuh,
menghimpit madah, gubahan cintaku.

II
Bilakah bumi bertabur bunga,
disebarkan tangan yang tiada terikat,
dipetik jari yang lemah lembut,
ditanai sayap kemerdekaan ra'yat?

Bilakah lawang bersinar Bebas,
ditinggalkan dera yang tiada terkata?
Bilakah susah yang kita benam,
dihembus angin kemerdekaan kita?

Di sanalah baru bermohon beta,
supaya badanku berkubur bunga,
bunga bingkisan, suara sya'irku.

Di situlah baru bersuka beta,
pabila badanku bercerai nyawa,
sebab menjemput Manikam bangsaku.

Puisi di atas menggambarkan sikap penyair melihat bangsanya yang berada dalam cengkeraman penjajah, sebagai bentuk nyanyian perjuangan bangsanya merebut kemerdekaan.

3.  Sanusi Pane

TEDJA

Lihat langit sebelah barat
Lautan warna dibuat teja,
Berkilau-kilau dari barat
Ke cakrawala bayangan mega.

Makin lama muram cahaya;
Awan kelabu, perlahan melayang,
Melayang, melayang entah ke mana,
Laksana mimpi ia menghilang.

Keluh kesah menurut awan,
Setelah menyala sebentar saja,
Pergi perlahan bermuram durja,

Hatiku menangis dipalu rawan,
Mengenang ba'gia musnah terus,
Setelah bermegah baru sejurus.

Puisi tersebut berjenis soneta, dalam kedua empat seuntaiannya penyair melukiskan suasana teja yang melayang entah ke mana, dan alam menjadi muram. Kemudian dalam kedua tiga seuntai berikutnya penyair mempersamakan keadaan alam itu dengan keadaan hatinya sendiri yang hanya mengalami bahagia sebentar saja.

SAJAK

O, bukannya dalam kata yang rancak
Kata yang pelik kebagusan sajak.
O, pujangga, bukan segala kata,
Yang 'kan cuma mempermainkan mata,
Dan hanya dibaca selintas lalu.
Karena tak keluar dari sukmamu.

Seperti matari mencintai bumi.
Memberi sinar selama-lamanya,
Tidak meminta sesuatu kembali,
Harus cintamu senantiasa.

Puisi ini merupakan konsepsi Sanusi Pane tentang sajak pada masa permulaan, hasil perbaikan dari sajak sebelumnya yang dimuat dalam Puspa Mega. Sajak ini berisi penyampaian pandangan penyair tentang sajak dan kepujanggaan, yang dimuat dalam kumpulan sajaknya berjudul Madah Kelana tahun 1931.

Demikian, contoh antologi puisi, karya sastra angkatan balai pustaka dan pengarangnya. Semoga semakin menambah wawasan dalam mengapresiasi banyak karya sastra puisi. 
Irwan Fyn
Irwan Fyn Guru dan Blogger Pemula. Mari ramaikan.

Post a Comment