Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Bagaimana Cara Memilih Instrumen Investasi Dengan Imbal Hasil Lebih Tinggi

Sebelum membahas bagaimana cara memilih instrumen investasi dengan imbal hasil lebih tinggi, ada baiknya kita pelajari dahulu, mengapa dan apa tujuan kita berinvestasi.

Tanpa memahami alasan mengapa harus melakukan sesuatu, maka biasanya kita akan terbawa suasana ke dalam hal yang membosankan hingga membuat kita berhenti di tengah jalan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memiliki alasan yang kuat untuk melakukan sesuatu agar membuat kita lebih tangguh, disiplin, lebih konsisten, dan tidak mudah berubah-ubah pikiran. Begitu pun dalam hal berinvestasi, kunci utamanya adalah bukan terletak pada strategi, tetapi pada tingkat kedisiplinan.

Setiap orang (investor) tentunya berinvestasi dengan tujuan yang berbeda. Ada yang sekadar ingin memperoleh tambahan penghasilan, ada yang ingin uangnya bertambah, dana pensiun, dan ada pula untuk dana pendidikan. Bahkan yang lebih serius lagi adalah melipatgandakan aset (uang) yang tujuan akhirnya untuk mencapai kebebasan finansial. Artinya, kita bisa memenuhi kebutuhan/gaya hidup yang kita inginkan bahkan dengan passive income.

Ada banyak cara untuk memperoleh passive income, meskipun semua passive income tentunya tidak dalam sekejap bisa memberikan hasil, di antaranya:

  1. Menjalankan bisnis yang tidak memerlukan kehadiran kita. Penciptaan sebuah sistem bisnis yang berhasil tanpa pengawasan pemiliknya membutuhkan perjuangan keras di awal terbentuknya bisnis tersebut
  2. Menyewakan rumah untuk kos-kosan. Dalam hal ini dibutuhkan modal yang tidak sedikit, antara lain untuk membeli properti, dan lainnya.
  3. Royalti dari penjualan album, naskah, hak cipta, hak paten. Untuk mendapatkan royalti diperlukan talenta khusus dan keuletan dalam menciptakan sebuah karya.
  4. Obligasi. Diperlukan kecermatan dalam memilih obligasi dari emitmen yang memberikan potensi keuntungan yang lebih besar dengan resiko terbatas.
  5. Dividen saham. Untuk memperoleh passive income dari saham, berarti anda harus menjadi seorang investor saham jangka panjang, sehingga mendapat pembagian deviden saham dan mengalami pelipatgandaan aset melalui pertumbuhan nilai harga saham.

Berlanjut pada bagaimana cara memilih instrumen investasi. Perlu diingat, semakin besar imbal hasil, maka semakin besar risiko yang harus ditanggung. Risiko biasanya muncul karena tidak ada pemahaman tentang investasi tersebut. Semakin besar risiko, berarti semakin banyak instrumen investasi yang harus dipelajari dan pahami dengan benar. Lantas, apa saja yang harus diperhatikan dalam memilih instrumen investasi?

1. Kenali tujuan investasi Anda

Dana pensiun dan dana pendidikan merupakan tujuan investasi jangka panjang yang biasanya dengan rentang waktu (time horizon) di atas 1 tahun. Jika anda ingin mendapat penghasilan tambahan setiap bulan, berarti untuk tujuan jangka pendek, anda bisa melakukan aktivitas trading saham jangka pendek. Trading forex dan emas juga dapat menjadi pilihan, namun tingkat risiko dan imbal hasilnya jauh di atas saham. Sebaiknya trader yang belum bisa menghasilkan profit konsisten dalam saham dan belum mengenal analisis teknikal, tidak melangkah ke trading forex dan komoditas karena risikonya lebih tinggi.

2. Kenali profil risiko Anda

Berinvestasi di deposito lebih rendah risikonya tapi juga lebih rendah imbal hasilnya. Investasi obligasi memiliki tingkat imbal hasil dari risiko setingkat di atas deposito. Di atasnya adalah reksa dana, baik reksa dana pendapatan tetap dan campuran maupun reksa dana saham. Investasi dengan tingkat imbal hasil dan risiko yang paling tinggi adalah saham. Forex dan komoditas menempati urutan tingkat risiko yang paling tinggi, di atas saham.

Kalau Anda tipe orang yang cenderung tenang dalam menghadapi masalah, problem solver, Anda boleh mencoba investasi saham. Namun jika Anda adalah orang yang mudah panik dalam menghadapi persoalan, sangat berbahaya bagi Anda untuk melakukan investasi/trading saham. Sebaiknya Anda berinvestasi ke instrumen yang tingkat risikonya lebih rendah, yakni reksa dana atau obligasi.

3. Tentukan rentang waktu yang Anda inginkan dalam berinvestasi

Ada tipe orang (investor) yang sabar, tidak suka fluktuasi harga, ada yang ingin cepat mencairkan uang, ada pula yang puas dengan profit sedikit tapi sering, atau ingin mendapat profit besar dan mau bersabar. Saran terbaik, pisahkan portofolio Anda menjadi 2 bagian, yaitu untuk invetasi jangka panjang (tahunan) dan investasi jangka pendek (mingguan-bulanan). Porsi investasi jangka panjang hendaknya tidak kurang 50% banyaknya daripada investasi jangka pendek. Pisahkan juga jika Anda ingin melakukan trading jangka pendek dengan rentang waktu harian.

4. Pelajari instrumen investasi sebaik-baiknya, sesuaikan porsinya dengan skill Anda.

Sering kali dibilang bahwa investasi yang high return itu high risk, benarkah? Investasi yang memberi imbal hasil yang tinggi pada umumnya memiliki tingkat risiko tinggi dan membutuhkan pemahaman tingkat lanjut dan keterampilan yang mumpuni. Risiko berbanding lurus dengan tingkat pemahaman seseorang akan sebuah instrumen investasi. Investasi saham sangat berisiko bagi orang yang sama sekali belum mempelajari strateginya-asal beli dan menjadi spekulan di bursa saham. Risiko yang muncul akan berkurang seiring dengan meningkatnya pemahaman dan kemampuan mengendalikan emosi.

5. Diversifikasi atau Konsentrasi?

Wejangan yang menari dalam berinvestasi. Jangan menaruh telur dalam satu keranjang. Dengan meletakkannya ke beberapa keranjang, kita telah meminimalkan/mendiversifikasi risikonya. Diversifikasi bertujuan meminimalkan risiko. Namun seiring dengan hal itu, diversifikasi juga berdampak pada menurunnya tingkat imbah hasil. 

Warren Buffet, The Oracle of Omaha, sang investor legendaris, justru tidak menggunakan jurus diversifikasi, tetapi sebaliknya, ia memilih strategi investasi terkonsentrasi. Dengan demikian, profit yang ia peroleh dalam sebuah investasi akan lebih tinggi. Strategi terkonsentrasi memang memberi imbal hasil lebih tinggi, tetapi tingkat risiko juga lebih besar. Oleh karenanya, untuk melakukan strategi terkonsentrasi harus mempelajari dan mempersiapkan investasinya dengan sangat matang.

Sebagai pemula, sebaiknya Anda tetap terdiversifikasi, tetapi jangan terlalu banyak memilih instrumen investasi. Demikian pula jika Anda berinvestasi di instrumen saham, sebaiknya Anda tidak membeli terlalu banyak saham, selain menyulitkan untuk dipantau, diversifikasi yang berlebihan justru membuat profit tidak maksimal. Seiring dengan meningkatkan skill, Anda boleh menggunakan strategi terkonsentrasi.

Nah, saat ini kita sudah tahu mengapa harus segera berinvestasi dan bagaimana memulai investasi. Perjalanan menjadi seorang trader dan investor yang berhasil konsisten mencetak profit tidak semudah membalik telapak tangan, dan hal tersebut dibutuhkan keberanian untuk memulainya. Keuletan untuk terus belajar dan berlatih, serta passion di bidang tersebut akan mendukung sepenuhnya untuk mencapai keberhasilan.

Post a Comment for "Bagaimana Cara Memilih Instrumen Investasi Dengan Imbal Hasil Lebih Tinggi"